DARUSSALAM | BANDA ACEH – Buku Acehnologi yang dibedah di Warong Seumike, Lingka Kupi di Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (10/3/2012) sore, mendapat apresiasi yang bagus dari pesertanya termasuk Profesor Yusny Saby yang tampil sebagai pembedah buku terbitan Bandar Publishing itu. Bedah buku tersebut selain dihadiri kalangan mahasiswa, juga dihadiri sejumlah profesor.

Di antara profesor yang berhadir adalah Prof Jasman J Ma’ruf yang baru saja dilantik sebagai Penjabat Bupati Aceh Jaya, Prof Bahrein T Sugihen, dan Prof Yusny Saby. Juga hadir sejumlah akademisi seperti Saifuddin Bantasyam, Shaleh Syafie, Saiful Mahdi, Fuad Mardhatillah UY Tiba,  dan masih ramai tokoh lain.

Yusny Saby yang tampil sebagai pemateri dalam bedah buku karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad menyatakan rasa apresiasi kepada penulis buku tersebut. Menurutnya, penulis buku terbitan Bandar Publishing itu sudah melanjutkan kreatifitas yang telah pernah dilakukan oleh cekdekiawan Aceh sebelumnya yakni Hasbi Ash Shiddiqy.

“Kita apresiasi kepada Kamaruzzaman karena dia sudah mampu melanjutkan jejak Hasbi Ash Shiddiqy,” sebutnya. Menurut Yusny, Hasbi Ash Shaddiqy dikenal sebagai penulis paling produktif yang dimiliki Aceh.

Sementara itu, penulis buku tersebut di depan peserta bedah buku menyatakan, bahwa ia menyelesaikan penulisan bukunya selama empat tahun. “Saya menulis buku ini terinspirasi dari buku Naquib al-Atas dan ingin melanjutkan spirit Hasbi Ash Shiddiqy,” ujarnya pria yang akrap dipanggil KBA.

Menurutnya, ternyata dalam buku-buku karya Naquib al-Atas justru sangat banyak mengekspos tentang Aceh. Dan salah satu buku Naquib al-Atas yang paling terkenal, sebut KBA, yang menuliskan tentang Hamzah Fansuri yaitu buku yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri.

Di mata Kamaruzzaman, orang-orang Aceh tempo dulu sudah memiliki spirit keilmuaan yang tinggi. “Nah itulah yang menjadi landasan saya untuk menulis buku Acehnologi ini. Saya ingin menelusuri apa yang membuat orang-orang tempo dulu mampu memproduksi keilmuan yang bermutu,” akunya.

Kenapa demikian? Menurutnya karena orang Aceh tempo dulu banyak yang istiqamah. Semestinya, kata dia, kita yang hidup di jaman serba teknologi sekarang ini justru harus jauh lebih produktif dan mampu menghasilkan produk keilmuan bermutu dibandingkan orang-orang tempo dulu tersebut.

Bagi pria yang akrab dipanggil KBA itu, buku Acehnologi ini merupakan karyanya yang kedelapan. [bi]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: